Di Atas Naungan Sajadah
Terngiang terus pembicaraan kemarin para penggos imud(penggosip ibu-ibu muda)mengenai mba Heni yg malang,aku nggak mengerti apa sih tujuan mereka berbuat begitu? Aku gak mau munafik memang sempat terlibat perdebatan dengan mereka namun aku hanya membela mba Heni. Setidaknya aku bukan mengecap mba Heni wanita… seperti anggapan mereka. Sungguh kasihan tiap hari mengantar anaknya sekolah yg didapati wajah-wajah masam dan sindiran,sudah keterlaluan banget.”Kita gak bisa menilai seseorang dari luar aja.” Seru ku pada para penggos imud.
Apakah karena aku juga mengalami masalah hingga otomatis memahami apa yg di rasakan mba Heni? Entahlah, sementara permasalahan mba Heni aku nggak tau jelas gimana.
Lamunanku tersentak sesaat, tangis putriku memecah kebisuan suasana rumah yg hanya ada aku dan Siva putriku. Kebiasaan Siva selalu terjaga manakala di dapatinya aku gak berada di sampingnya.Saat menina bobokan, kulirik jam sudah hampir setengah sebelas.
Mungkin dia gak pulang lagi malam ini…batinku sendiri.
Seperti malam-malam sebelumnya aku lewati .Walau kadang-kadang masih terbersit rasa marah,kecewa,sakit hati, serba salah,dan seabreg deh yg gak bakalan bisa di ungkapin dengan kata-kata.Dongkol juga sih tapi aku ini kan hanya manusia biasa yg gak lepas dari segala perasaan.Wah kacau mulai kacau lagi kalau aku udah begini.Ahh masa bodoh dengan semuanya aku membantah dalam batin yg terkoyak,berusaha untuk gak mau perduli lagi.Segera ku basuh wajahku berwudhu dan melaksanakan sholat sunnah seperti biasa.Setelah selesai memanjatkan doa, ku raih Walkman yg selalu menemani tidurku dengan alunan musik instrument kecapi yg mendayu-dayu aku di buat terlena dan akhirnya terlelap.
Pagi ini lagi …benar aja dia gak ada ,aku memeriksa kamar tidur sampai ke ruang tengah tak juga ku dapati sosok suamiku dalam rumah ini.Mulai menyapa suara-suara di hatiku”tuh kan dia gak pulang pasti lg…” aku gak mau dengar,aku pura-pura bodoh sampai suara-suara itu kehabisan kata.Barangkali di kantor dia banyak kerjaan..gumam hatiku membalas suara-suara yg lain.
Pagi itu seperti biasa para penggos imud (penggosip ibu-ibu muda) kembali berkoar-koar dengan segala macam berita. Aku gak berminat menjadi salah satu grup mereka,boleh jadi mereka kumpulan orang berduit diliat dari dandanan dan perhiasan yg mereka kenakan. Tapi perbuatan mereka apa sama kemilaunya dengan perhiasan yg melekat di tubuh mereka? Hanya uang yg membuat mereka di pandang dan jadi sanjungan. Grup imud itu memang ibu-ibu kelas kakap.Aku bukan iri pada kelebihan mereka ih.. gak lah.Pokoknya mereka ya mereka , aku ya aku..
Saat jam istirahat anak-anak saling berebutan mengambil kotak makanan yg telah tersusun rapi pada rak,Ku liat Siva putriku sudah membuka kotaknya dan melambai padaku.aku menatap putriku dari balik jendela melihat ia yg tumbuh sehat dan lincah sejenak terlintas apapun akan ku tempuh demi dia jantung hatiku.Ia pasti merindukan papanya.
“Ma…kapan beli crayon nya? Ibu guru bilang gambar bunga Siva bagus lo ma” aku tersenyum melihat ia sangat bersemangat. “Nanti sore kita beli crayon nya ya” Siva menganggukan kepalanya. “Sarah kamu belum di jemput?” anak itu hanya menggelengkan kepalanya dan matanya mencari-cari keberadaan ibunya.Nggak biasanya mba Heni telat menjemput Sarah aku bergumam sendiri.”Sarah nunggu di dalam aja ya nanti juga ibu datang kok” hiburku. “Nggak ah Sarah mau pulang sendiri aja tante” anak itu melihat halaman sekolah sudah mulai sepi. “Tapi,tapi Sarah tau nggak jalan ke rumah?” tanyaku heran “Tau kok,rumah Sarah gak jauh, disitu dekat Indomaret” aku gak tega membiarkannya pulang sendiri “Baiklah biar tante antar sampai di rumah,Sarah unjukin jalannya aja.”
Setibanya kami di rumah yg bercat kuning itu,Sarah memanggil-manggil ibunya.Dari dalam terdengar suara mba Heni menjawab sahutan anaknya. “Eh mama Siva yuk masuk dulu sebentar di luar panas.” Mba Heni mengundang masuk rumahnya,gak enak juga kalau menolak lagian kasian Siva kepanasan.”Makasih banyak mba ” sahutku. Memang cuaca lagi panas banget gak seperti biasanya apalagi ini musim kemarau.
Sarah dan Siva main bersama di ruang sebelah saat aku dan mba Heni mulai berbincang bincang.Kami mulai akrab sampai pada akhirnya aku menanyakan kebenaran dari cerita-cerita para penggosip imud di sekolah. Reaksi mba Heni sempat berubah dan .”Maaf mba aku gak bermaksud …” belum selesai kalimatku ..”Nggak apa kok mereka hanya bisa menilai dari luardan hanya aku yg tau semua ini.” Selanjutnya aku masih tetap diam sampai mba Heni melanjutkan. “Hanya kamu yg mau berteman pada mba.Apa kamu tau selama ini mba adalah istri kedua? Itulah sebabnya di sekolah mba di kucilkan karena mereka tau siapa mba. Entah lah mba juga gak mau pusing ,darimana siapa dan mengapa semua ini hanya mba yg tau jawabannya.Hati mba sebenarnya sedih dengan semua ini tapi mba harus bertahan demi Sarah dan mba pun berani melakukan semua ini.Sejak suami mba yg pertama meninggal karena tabrakan Sarah masih berumur 10bulan mba gak punya sanak keluarga disini orangtua mba pun sudah tiada..Keluarga suami mba juga nggak di kota ini dan… dan mba akhirnya…”suara mba Heni terbata-bata dan matanya mulai berkaca-kaca”Sudahlah mba gak usah risaukan apapun semua,memang mba lakukan semua ini hanya untuk Sarah kan…ingatlah masa depannya karena kita hidup hanya untuk mereka.Aku ngerti kok mba…”Ku genggam jemari-jemari tangannya yg dingin sedingin batu es dan airmatanya pun berlinang membasahi pipinya yg putih bersih tanpa sedikitpun polesan bedak.Mba Heni memang masih terlihat cantik di usianya yg 35th.
Tak lama kemudian Siva merengek minta pulang karena merasa ngantuk,aku baru ingat sekarang adalah jam tidur siangnya.Bahkan Sarah sudah ketiduran di karpet karna lelah bermain.
Malam ini adalah malam yg kesekian kalinya dimana suamiku belum juga pulang.Memang sudah sering ia begini,ku renungi kembali yg selama ini menimpaku.Sejak kejadian di malam itu sampai sekarang..Terlalu banyak kisah,terlalu banyak tangis,terlalu banyak kepedihan.Ku pejamkan mata mencoba menerawang semua namun aku sangat takut untuk kembali pada kejadian 2 tahun yg lalu.Ku anggap semua itu hanya mimpi buruk dalam hidupku dan memang aku sekarang sudah merasa sedikit lebih tenang.
Bukan hanya syok yg kurasa tapi bagaikan di sambar petir saat itu.Aku gak mampu berdiri, sekujur tubuhku menggigil bergetar hebat mendengar pengakuan suamiku yg telah memperisteri wanita lain tanpa sepengetahuanku.Bumi yg ku pijak seakan melayang jauh membawaku terbang tanpa arah.Gak ada satu kalimat pun yg dapat mengungkapkan peristiwa itu, yg ada hanya bahasa makian yg keluar dari mulutku sampai seluruh isi kebun binatang ku limpahkan padanya. Dia hanya diam tertunduk.Setelah puas dan lelah aku pun terpaku lemas.Gak kebayang aku mengalami ini.Aku sangat mempercayai dia namun kini semua gak berarti sama sekali,Mengapa ia lakukan ini padaku?untuk apa dia berterus terang sekarang? Sudah terlambat untuk memperbaiki dan memang gak bisa ku maafkan perbuatannya saat itu.
Setelah kejadian malam itu aku menjadi sangat tertekan berhari-hari aku gak lepas dari tangis dan airmata yg terus menemaniku.Aku gak mau begini,aku gak boleh begini,nggak boleh! batinku menjerit berusaha melawan segala daya kesengsaraan yg bersarang dalam hatiku… Pandanganku tiba-tiba tertuju pada mukenah dan sejadah yg tersandar di kursi , sadar hanya DIA yg bisa menolongku ,hanya DIA yg selama 5 tahun ini aku percaya.Setelah mandi dan berwudhu ku kumandangkan ayat-ayat yg hanya beberapa aja kuhafal dari buku kunci ibadah.Walau aku seorang mualaf aku bertekad harus bisa menguasai bahasa dan tulisan yg sama sekali masih asing bagiku. Aku yg memilihNya tanpa paksaan siapapun dan aku yakin bisa.Jiwaku mulai bersatu dengan kalimat Bismillah pelan-pelan aku merasakan hawa kesejukan mengalir dari ujung rambutku hingga ujung kaki… aku merasa di peluk oleh sesuatu yg membuatku damai.”Ya Allah ku berserah pada kehendakMu,Berikan kekuatan jiwaku dan tuntunlah aku dalam terangMu.” Aku bersimpuh dan hanya dengan kalimat itu hatiku merasa tenang.Selama ini aku gak pernah sangat berharap pada apapun, hidup ku lalui biasa-biasa aja.Segala kesulitan yg datang mampu ku hadapi.Saat kejadian ini menimpaku, membuatku terguncang amat terpukul sampai-sampai gak bisa berbuat apa-apa lagi. Alhamdulillah ketenangan itu hadir mengingat kebesaran dan kekuasaanNya.Memang aku gak sekuat yg kukira , kadang merasakan sakit lagi dan lagi tapi aku gak se histeris dulu.
Tiba-tiba pintu di ketuk aku tersadar dari lamunan, aku bergegas membuka pintu dan…di depanku berdiri lunglai suamiku dengan pakaiannya yg kusut sekusut raut wajahnya.Dia berjalan gontai tanpa sepatah kata..aku merasa ada sesuatu yg gak beres namun aku gak mau menanyakan biarlah dia lepaskan lelah dulu.”Pa,udah makan belum? Ia gak meresponku.Sebentar mama siapin air panas untuk mandi,” Aku beranjak ke dapur dan segera mempersiapkan semua. Tak lama kemudian dia ke kamar siva menciumi anaknya yg tertidur pulas .Aku terharu melihat adegan itu ternyata dia masih punya rasa sayang pada putrinya.
Sekarang ia sudah segar setelah mandi tapi raut wajah itu masih terlihat kusut mungkin benar ada yg di cemaskannya. Akhirnya..”Ma, kau baik-baik aja akhir-akhir ini? Siva bagaimana ? dia sehat-sehat aja kan?” Aku bingung dan masih dalam bingung “Ma, maafin papa selama ini sudah terlalu menyakitimu,Maaf ya ma..” Aku gak kuat menahan airmata, akhirnya ku peluk erat ia bagaimana pun ia adalah suamiku papa dari putriku dan aku gak menyangkal hatiku masih menyayanginya dan mencintainya walau ada wanita lain yg juga di cintainya.Hatiku tak mampu untuk terus membencinya. Apakah ini yg namanya Takdir? Aku memang sudah merestui hubungan mereka dengan menberi ijinku sebagai istri pertamanya.Itu sudah terjadi 2 tahun lalu dan kini aku sudah memaafkannya..”Pa, sudahlah mama sudah gak marah lagi ama kalian biarlah kita jalani semua begini.” Dia semakin erat merangkulku dalam pelukannya. “Ma, dia salah menilai mama dia yang memaksa papa untuk melepas mama dan Siva tapi papa gak mampu,sungguh-sungguh gak bisa..dia gak tahan hidup begini akhirnya papa putuskan meninggalkannya, Dia gak menghargai mama dan pengorbanan mama selama ini..Maaf ma papa baru sadar sekarang diantara dua pilihan hanya mama yg tepat di hati papa bayangan mama dan Siva gak pernah lepas di hati papa.” Aku menatap kedua matanya dalam-dalam dan mencari kebenaran disana,Suamiku balik menatapku dalam dan berusaha meyakinkanku dengan setengah anggukan dan senyum yg terbingkai di wajahnya.”Pa, selama ini mama berusaha untuk memahami apa yg tlah terjadi dan mama gak bisa membenci kalian, walau jujur mama akui masih belum mampu menahan sakit apa lagi melihat Siva kita yg masih kecil semakin lemah hati ini,hanya kepasrahan yg bisa mama perbuat.Mengapa dia berbuat begitu pa? Dia kan mencintai papa begitu pun papa juga.”Aku tetap gak mengerti ” Mungkin ini yg terbaik buat dia juga papa, maafin papa dan dia” Haru saat itu aku gak dapat berkata apa-apa yg terlintas dan terucap di bibirku Subhanallah Walhamdulillah…Ternyata inilah buah dari kesabaran dan inilah bukti bahwa gak ada yg mustahil bagiNya,Ya Allah Maha Suci Engkau… Dalam doaku selama 2 tahun bertahan di bukakan jalan dari antara dua pilihan mencintai suamiku dan putriku namun harus menahan ujianMu atau melepaskan semua dengan bebas dari derita tapi tanpa mendapatkan pahala dan nikmat yg saat ini… ,di sini… aku rasakan sungguh besar KekuasaanMu.
“Mama maafin dia pa,kenapa mama gak mau maafin, siapalah mama ini Allah yang maha Besar aja mau memaafkan umatnya kenapa mama nggak?” Kami saling merangkul dan tak lama tangis Siva membuat kami sadar.Kami menciumi buah hati kami yg menjadi ikatan diantara kami.”Papa,papa sudah pulang? Jangan tinggalin Siva lagi dong pa…Siva takut sama mama bobo sendiri…” kami tersenyum “Nggak Siva papa gak tinggalin kalian lagi”
Malam Ini adalah malam yg teramat sangat membahagiakanku.Akhirnya aku mendapatkan pencerahan dari semua ini.
Pagi yg cerah secerah hatiku setelah sholat subuh bersama aku mempersiapkan sarapan pagi, tak lama telepon berdering”Halo mama Siva? Aku mba Heni. Mungkin besok aku dan Sarah gak kesekolah lagi ,suami mba mengajak pindah ke Malaysia karna tugas dari kantornya.” Aku ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu “tapi mba bukannya mba …anu..eh itu” Terdengar tawa mba Heni “ Iya memang mba istri kedua mas Her,setelah setahun bercerai dengan istri pertamanya yg memilih hidup dengan pria lain, mba ketemu mas Her 3 bulan lalu dan kami menikah tapi secara siri karna mba dan mas Her sama-sama belum yakin,baru kemarin kami sepakat untuk hidup bersama demi Sarah.Mas Her sangat menyayangi Sarah seperti anak sendiri,itu yg utama buat mba karna mas Her gak di karuniai anak dari perkawinannya yg pertama.Mba sangat bersyukur dia menyayangi Sarah juga mba.” Hening sesaat. “Halo…halo mba, Alhamdulillah mba memang wanita yg layak mendapatkan itu semua.Selamat ya mba…seharusnya mba senang, gak tau gimana reaksi penggos imud di sekolah jika mereka dengar kabar ini,aku udah ga tahan melihat raut wajah mereka mba..hahaha”
Tawaku memecah kebisuan.”Ah kamu bisa aja,mba nggak nyalahin mereka kok,mba senang sampai gak bisa di ungkapin.Nanti kamu datang ya di acara mba ajak juga suami biar saling kenal,sudah dulu ya banyak yg harus mba kerjakan sampai ketemu nanti.” Sungguh semua ini adalah jalan yg telah di atur oleh Nya..siapa yg tau rahasiaNya?
“MENAHAN DIRI DARI PENDERITAAN ADALAH UJIAN SEJATI BAGI KETULUSAN/KESUNGGUHAN HATI.
TERDAPAT TUJUAN ILAHIAH DI BALIK KEPEDIHAN YG BERSIFAT FISIK. GANDHY
Jakarta,medio Juni 2007
By: Fira.R