KINI NAMAKU LATIFAH FAUZIA
Angin dingin menembus kulit Luciola yang hanya mengenakan baju kaos tanpa jaket malam itu.Dinginnya malam menembus hingga terasa ke tulang.
Ola memacu motor Honda menembus gelapnya malam dalam hatinya berbisik semoga Mei mau ku ajak pulang ke rumah.Sejak mama tiada adik Ola itu memilih meninggalkan rumah. Motor pinjaman dari teman, menelusuri jalan yang berkelok-kelok ,di sepanjang sisi jalan Veteran berderet tenda-tenda yang menjajakan aneka makanan.Aroma sedap menusuk hidung menimbulkan rasa lapar. Tak berapa lama kemudian Ola sudah tiba di ditujuan diparkirnya motor di halaman depan, dari luar terdengar tawa Mei yang terkekeh-kekeh mungkin sedang ngobrol dengan Nani si cabe rawit itu. Tebak Ola dalam hati.
“Assalamualaikum !” Suara salam Ola membuat mereka di dalam rumah diam sesaat.
“Wa’alaikumsalam, siapa?” Balas suara dari dalam ,Nani menyambut Ola.
“Eh,saya kira tamu siapa yuk masuk. Mei… !Ola datang nih” Teriak Nani memanggil.
“Dari mana La ?” Tanya Nani.
“Dari rumah…, tante Emi ada?”
“Mama lagi nginap di Pare-pare ada pesta besok, kau perlu sama mama atau Mei?”
“Ya perlu dua-duanya lah “ Jawab Ola ,tak lama Mei keluar menyapa Ola tapi ada beberapa orang lain lagi yang ikut di belakangnya. Mereka semua memandang Ola. Asing.
“Datang dengan siapa La?” Tanya Mei kemudian.
“ Dengan motor.” Canda Ola “Ya sendirilah !” Jawabnya kemudian. Mata Ola tertuju pada empat orang laki-laki di depannya..
“ O iya La, kenalkan ini teman-temanku Rasid,Awal,udin dan yang itu kak Ervan.”
Mereka tersenyum dan saling berjabat tangan satu persatu, tapi yang terakhir Ola berjabat senyumnya seakan mengandung magnet membuat jantung Ola tidak keruan detaknya. Nani mengatakan bahwa mereka sedang diskusi untuk acara bazaar yang akan mereka selenggarakan hari minggu nanti. Mei ikut sebagai panitia dan ketuanya si Ervan itu. Tidak lama kemudian Ola mengajak Mei ngobrol di luar, Ola membujuknya pulang tapi dia tidak mau dengan alasan yang sama seperti biasa. Memang tante Emi dan om Soni bukan orang lain.Om Soni adalah sepupu dari mama mereka. Kekhawatiran Ola sedikit beralasan memikirkan Mei karena lingkungan tempat tinggal tante selalu terjadi perang antara warga,tapi dasar Mei yang keras kepala tidak mau di atur membuat resah. Karena bujukan Ola tidak mempan akhirnya ia putuskan pulang, Nani dan Mei mengantar sampai ke depan halaman di ikuti teman-temannya. Sekilas wajah yang membuat debaran jantung tak keruan itu tersenyum pada Ola.Wajahnya yang kearab-arab an mirip artis Ahmad Albar Senyumnya memanah tembus hingga ke hati Ola. Ia jadi tak tenang. Ada apa ini,bisik Ola dalam hati.Dia seakan tak perduli kalau senyum maut Ervan yang di lontarkan itu sudah membiusnya lemas seketika. Cepat-cepat Ola menstarter motor Honda milik temannya Pikiranku jadi kacau hatipun tak enak jika berlama-lama disini ngoceh Ola dalam hati..Menjauh dari orang yang seenaknya aja memamerkan senyum mautnya sembarangan. Dalam hati Ola mengutuk dirinya mengapa juga aku menatapnya dasar bodoh, bodoh !!!
Sesampainya di rumah Ola tidak bisa memejamkan mata, gelisah padahal jarum jam sudah menunjuk angka 2. Ah…kenapa jadi begini? Apa yang terjadi denganku? Ola pura-pura tidak tau alasannya sengaja agar tidak bertambah lagi pertanyaan lain. Namun untuk kesekian kalinya Ola harus menghadapinya juga. Tidak! Aku harus membubarkan semua yang mengusik pikiranku. Tidak boleh ia menguasai hatiku,seenaknya aja masuk tanpa diundang mengutak-atik perasaanku bah…siapa dia? pacar pun bukan hanya sebatas mengetahui ia adalah teman Mei.Lucu kan kenapa aku harus terpengaruh pada orang asing? Gejolak hati Ola yang larut dalam kekesalan selarut malam ini. Karena lelah menyangkal dan berdebat sendiri dalam hati ,akhirnya Ola terlelap juga.
Pagi harinya alhasil Ola jadi telat kesekolah karena semalam suntuk sibuk dengan perang batin yang membuatnya gelisah. Jangan sampai aku ketemu dengannya , kalaupun ketemu juga aku tak akan memandang wajahnya. Janji Ola di hati. Kenapa aku memikirkan akan bertemu? Goblok juga aku sialan ! Maki Ola lagi di hati.Uwwaaahh…Ola menguap menahan kantuk gara-gara semalam kurang tidur. Karena melamun terlalu serius Ola tak menyadari suara pak Yosep menegurnya “Luciola ! kerjakan soal no 5 di papan” Serunya dengan logat bataknya yang kental.Kaget karena namanya di panggil dan semua soal-soal tersebut tak satupun masuk di otaknya,karena sejak tadi otaknya ini sibuk dengan soal-soal lain.
“Yang nomor berapa pak?” Ola sudah berdiri di depan papan tulis kebingungan.
“Itulah kau mengapa tidak sekalian kau bawa bantal kesekolah ha!!!” Suara pak Yosep menggema seisi kelas Ola tak berani melihatnya,teman-teman lain diam ketakutan.
“Apa saja yang kau kerjakan semalam, kali ini jangan alasan karena adik-adikmu lagi”
“Mau jadi apanya kau ini? Ujian Ebtanas tinggal sebulan lagi tapi kau….!” Pak Yosep tak meneruskan kalimatnya, diambilnya kapur dari tangan Ola dan Ola diusir keluar dari kelas. Guru terangker dan terkenal disiplin adalah beliau.Dan yang parah ia mengajar matematika dan jadi wali kelas Ola di kelas III. Ola tidak menyalahkan gurunya dirinya lah yang salah, memang tugas seorang pendidik adalah menegur siswanya yg teledor. Tapi harus bagaimana lagi? sejak mama Ola meninggal beban tanggung jawab harus di pikul sendiri mengurus adik-adiknya hingga sekolah pun ia nomor duakan.Di tambah lagi biaya sekolah yang hampir selalu terlambat bahkan menunggak hingga beberapa bulan. Maklum Ola sekolah di sekolah swasta yang SPPnya selangit.
Mereka bersaudara di sekolahkan di sekolah yang ketat didikan agamanya. Mamanyalah yang berperan penting dalam menyekolahkan mereka. Mamanya memilih sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya ,namun sejak mamanya pergi untuk selamanya kehidupan mereka pun jadi berubah. Papanya hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Pekerjaan papanya hanyalah seorang montir. Saat mamanya hidup terkadang mamanya membantu dengan berdagang.Kini semua berantakan tapi Ola tak perduli Ola tak mau tangisi terus apa yang sudah terjadi.Ola harus mampu menghadapi semua, Ola tau di umurnya sekarang apa yang bisa ia lakukan? Ola hanya berharap semua bisa berjalan lancar.Yang ia cemaskan hanya adik-adiknya. Mereka masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
Selama ini mereka selalu di manja oleh kasih sayang mama, sehingga kepergian mama membuat mereka terpukul. Mereka hanya bisa menangis dan menangis hari demi hari bulan demi bulan. Manakala hati sedih Ola hanya bisa memandang foto mamanya. Menangisi yang sudah terjadi tak membuahkan apa-apa. Berapa banyak sudah air mata yang tumpah,dan mata memerah juga membengkak tetap tak bisa mengembalikan menghidupkan mama.Ola merenungi kesedihannya.
Papa ! ya ,masih ada papa tapi…kasih dan sayang nya hanya untuk wanita yang menjadi pengganti mamanya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa yang pak Frans peristri juga bukan wanita lain dia masih terhitung keluarga dan ia seorang janda yang beranak dua. Maka beban pak Frans pun semakin bertambah dengan hadirnya saudara tiri mereka. Ola hanya seorang anak yang tidak punya pilihan lain selain menjalankan hidup apa adanya. Ola harus mengalah.Mengurus kesepuluh adik-adiknya yang lain,pagi-pagi sebelum berangkat sekolah Ola mengutamakan adik-adiknya barulah Ola bisa kesekolah juga.Sementara kakaknya yang pertama sudah menikah jadi mau tak mau Ola lah yang tertua pengganti dia.
Kembali saat di sekolah. Ola terpaksa menunggu hingga jam pelajaran pak Yosep selesai Ola akhirnya ke kantin sekolah.Ibu kantin yang sangat baik itu memberinya roti tanpa bayar, gratis. Karena kebaikannya Ola menawarkan diri membantunya mencuci piring dan mangkok-mangkok bakso.Ola tidak malu, baginya itu bukan pekerjaan yang hina. Apalagi ibu kantin mengupahnya semangkok bakso, lumayan dari pada mengemis atau berutang,kata Ola dalam hati.Jadilah Ola asisten ibu kantin, profesinya sebagai pencuci piring dan tiap jam istirahat Ola tidak pernah kumpul-kumpul dengan teman-temannya bermain bercanda membicarakan hal-hal yang menarik seperti film dan buku-buku novel terbaru, apalagi menggosip sesama teman. Bukan berarti Ola tak mempunyai teman sama sekali, dari sekian banyak siswa dalam kelasnya Selia dan Grace juga Sari adalah teman yang baik tapi hanya Sari yang dekat dengannya dan selalu membantunya meminjamkan catatan atau buku cetaknya .Sari teman sebangku Ola.Saat ujian tiba ia selalu mengajak Ola belajar bersama membahas soal-soal ujian umum atau ulangan-ulangan harian. Kebaikannya tak pernah bisa Ola lupakan. Mereka menjadi sahabat sejak di sekolah menengah pertama/ SMP. Ia selalu jadi pembela saat teman lain mencemohnya.Suatu hari di dalam kantin saat jam istirahat, Ola dan Sari makan bersama. Vonny dan gengnya datang menghampiri ”Luciola!, masih ada tuh mangkok kotor di dalam ruang guru” kata Vonny dengan nada mengejek.”eh sekalian punyaku ini” Leni meletakkan mangkok bekas makannya di atas meja tempat Ola dan Sari sedang makan. “Hey! Kalian tidak punya perasaan sama sekali” Sari membela. “Sudahlah Sar, biarin aja tidak apa-apa kok” kata Ola. “Yang aku ajak bicara bukan kamu kok, kenapa kamu yang sewot? He! ga usah sok deh” lanjut Vonny berang pada Sari “Iya, sama aja mereka berdua setali tiga uang “ celutuk Leni kemudian. Setelah itu geng orang kaya dan sok itu pergi meninggalkan Sari dan Ola. “Sar, seharusnya tidak usah kau ladeni mereka, biarin aja nanti juga mereka diam sendiri.” Kata Ola membujuk Sari. “Tapi tindakan mereka sudah keterlaluan, apa kau tidak sakit hati?” Ola menggeleng “Tidak Sar aku tidak sakit hati kok. Tenang aja oke?” Ola sebenarnya sangat terharu tapi tidak ia nampakkan keharuannya itu. Ola ingin Sari tidak mencemaskannya. “Ya udah tapi kau tidak sedih kan?” Ola gelengkan kepalanya lagi. Sari, sari senangnya punya teman yang memperhatikanku.bisik Ola di hati. Ada rasa haru dan senang berbaur jadi satu di hati Ola. Inilah arti sebuah persahabatan, teman sejati yang senantiasa menghibur dikala duka dan tertawa bersama dikala senang.
Di suatu sore,saat membersihkan rumah pintu di ketuk seseorang dan alangkah kagetnya Ola ternyata yang datang adalah si empunya senyum maut itu Ervan, tiba-tiba saja kaki Ola tak bisa bergerak seluruh persendiannya kaku seketika. Ada maksud apa dia tiba-tiba saja datang? Atau jangan-jangan dia membawa kabar tentang Mei? Ah, dari pada hanya asal tebak lebih baik tanya langsung. Suara hati Ola penasaran.
“ Silahkan masuk !” sapa Ola kaku.
“ Maaf , kedatanganku mengundangmu di acara Bazar minggu besok “
“ Iya tapi silahkan masuk dulu nanti bicaranya di dalam saja”
“ Terima kasih biar di luar saja, aku buru-buru nih”
“ Tapi aku tidak pesan kuponnya kok”
“ Memang tidak, aku kan mengundang bukan menyuruh beli kupon”
“ Ow ,maaf maksudnya aku di kasih kupon bazaar nih?”
Dia tersenyum lagi.Alamak.Ola tersipu. Senyumnya itu mulai membuat Ola salting salah tingkah. Wajahnya yang tampan pasti membius para gadis yg memandangnya . Siapa kira-kira wanita yang tengah menjadi kekasihnya? Bisik Ola penasaran. Dia datang bersama temannya yang waktu itu di kenalkan Nani, Si Udin.
“ Din , kupon buat kakaknya Mei dimana?” tanya nya pada Udin.
“ Katanya Mei jangan sampai tidak datang dan dia bilang datangnya sendiri saja”
“ Maksudnya tidak boleh bawa teman?”
“ Boleh-boleh saja tapi harus beli kuponnya, iya kan Van?” Udin menyikut Ervan
“ Apaaa? Ehh iya iya “ Jawabnya tergagap-gagap.
“ Ya udah kami tunggu malam minggu, permisi kami pulang dulu ya” Ah ternyata dia kelihatan kaku juga, Ola tertawa sendiri dalam hati.
Becak yang Ola tumpangi jalannya terkeok-keok, nafas yang memburu terengah-engah sang pengayuhnya membuat perjalanan dari rumah ke kios Arini terasa lama. Si abang becak yang tua renta mengayuhkan becak sangat pelan. Hampir sebagian wilayah kota Makassar ini di penuhi dengan kendaraan becak, selain bisa menikmati pemandangan ongkos tarif bisa saling tawar menawar kalau cocok harga naik. Tidak perlu takut panas jika siang hari karena sudah ada atapnya dan bila hujan sekali tarik tali kita aman di dalamnya.
Tak berapa lama sampai di kios Arini Ola sudah di tunggu Mei di depan kios. Mereka langsung menuju ke lantai dua dan bergabung dengan yang lain.Di ujung meja Ervan melambaikan tangan. Mei sekilas berbisik “Salamnya kak Ervan” Ola tersentak kaget seketika. “Ah, jangan sembarang bicara.” “Serius ! ngapain aku bohong, ini bukan asal bicara ” kata Mei layaknya mak comblang.
“Sudah ah, coba liat paket yang kalian hidangkan “ kata Ola mengalihkan pembicaraan.
“ Kak Ervan ! sini dong duduknya !” seru Mei memanggil.
“Apa-apaan sih Mei “ dan yang di panggil sudah di depan mata.Mei mengerling mata. “Bagaimana pendapatmu ?”
“Apanya ?” tanya Ola bingung.
“ Acara Bazar ini ?” jawabnya. Duduk berhadapan dengannya membuat Ola kikuk.
“ O bagus, bagus ramai juga dan banyak sekali peminatnya ya” jawab Ola sekadanya.
“ Sebentar jangan langsung pulang dulu,kita ada acara khusus lagi”
“ Tapi aku kan bukan panitia, lagi pula aku tidak bisa terlalu lama disini”
“Aku tau kau hanya menghindar dariku” tak ku duga jawabnya begitu.
“ Bukan begitu aku tidak boleh pulang larut malam,adik-adik di rumah tak ada yang urus”
“ Nanti saya antar pulang jangan takut” katanya kemudian. Nani dan Mei menggoda.
“ Wei, orang pacaran bukan disini tempatnya “ pacaran????Ervan dan Ola tersipu malu.
“ Nah sekarang tunggu apa lagi yuk kita makan,lapar nih” ajak Nani sambil senyum.
Malam minggu yg berkesan indah dan tak dapat Ola lupakan. Setelah selesai acara Ervan benar-benar mengantar Ola pulang. Selama perjalanan Ervan tak henti-hentinya bertanya apa kau menyukaiku? Apa kau mau menjadi kekasihku? Apa kau sudah punya cinta lain? Tak bisa di sangkal lagi saat itu Ola pun menyukainya. Tapi apakah iya ini yang di sebut jatuh cinta? Ola tidak yakin. Ah..barangkali dia tidak serius atau barangkali dia hanya bercanda untuk menggodaku,Ola berpikir begitu. Tapi setibanya di rumah, Ervan benar-benar meminta jawaban darinya saat itu juga. Ola terkesima akan keseriusannya yang baru ia sadari. Saat Ola menatap matanya dan disana di dalam mata itu Ola bisa merasakan bias sinar mata Ervan yang teduh mengundang hatinya masuk ke dalam jauh…dan Ola pun akhirnya tak kuasa menjawab tidak. Aneh..kata Ola padahal pertemuan mereka begitu singkat tapi Ola seakan sudah mengenalnya lama. Ola hanya bertemu dua kali itupun kalau saat itu Ola tidak mencari Mei di rumah tantenya malam itu ,tentu sampai sekarang Ola tak mengenalnya.Memang Ervan mengakui kalau ia pernah menjalin cinta dengan wanita lain tapi itu tak bertahan lama. Sejak bertemu Ola, Ervan merasakan ada sesuatu yang lain yg sebelumnya tak pernah ia rasakan.Sesuatu itu datang tiba-tiba dan Ervan pun tak bisa menghindari. Tak berapa lama Ervan tlah sampai mengantar Ola pulang.
Dia pulang dengan sejuta senyum yang membingkai sudut bibirnya ,Ola di dalam kamarnya terbuai dengan sejuta kata-kata manisnya saat di depan rumah hendak pulang Ervan membisikkan “Aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu selamat tidur,mimpikan aku ya say.” Malam ini Ola membingkai kalimat itu di lubuk hatinya ,dan mulai malam ini Ola memajang kata-kata cinta Ervan itu selalu di lubuk hatinya yang terdalam. Ola jatuh cinta. Jatuh cinta pada pria yang selalu membuatnya serba salah.Ola tau ia mengakuinya.
Keesokan harinya pertemuan mereka terus berlanjut dan seterusnya dan seterusnya , dari seminggu sekali berubah menjadi seminggu dua kali bahkan kadang saat hati di landa kerinduan mereka tak perduli dengan hari. Setelah sebulan hubungan mereka berjalan Ola dan Ervan semakin mesra saja, Mei dan Nani juga Udin Awal dan yang lain menggelar mereka pasangan yang serasi. Namun Ola harus menghadapi kritikan pedis dari ibu Ervan yang tidak menyukai hubungan mereka berdua. Bahwa Ola tidak bisa berhubungan dengan anaknya karena Ola beda aliran agama beda keyakinan.Di situlah awal mulanya hubungan mereka di tentang oleh orang tuanya juga orangtua Ola.
Hari-hari berlalu tak terasa Ebtanas sudah di depan mata. Semua siswa sekolah mempersiapkan mental dan belajar keras agar lulus begitu pun Ola yg mempersiapkan semua buku catatan dengan lengkap, bahkan Sari temannya bersedia meminjamkan buku cetaknya untuk di fotokopi. Dari pada beli lebih baik menyalin yang penting-penting membuat rangkuman dari setiap bab yang di pelajari. Tetapi Ola terbentur dengan pembayaran sekolah SPP yang belum lunas selama 5 bulan. Uang ujian yang hanya 30 ribu saja Ola belum membayarnya. Hingga suatu hari di sekolah, “Luciola ! pak Lius memanggil dan menyuruh Ola ke ruang TU tata usaha.Ola di interogasi bak seorang yang terpidana “Bagaimana kau ini, sudah 5 bulan kau belum bayar SPPmu dan saran bapak secepatnya kau selesaikan kalau mau ikut ujian nanti.” Ola hanya menunduk tak bisa berbuat apa-apa mau bicara juga harus kasih alasan yang bagaimana lagi? Mereka tentu tak kan percaya. Ola keluar dari ruang TU basah kuyup dengan keringat yang berceceran di seluruh tubuhnya seribu tanda tanya memenuhi kepalanya, apa papa tidak mau tau lagi tentang sekolahku? Apa papa benar-benar kesulitan keuangan hingga tak mampu membayar tunggakanku?Batin Ola sedih. Sementara adik-adik juga ada yang terlambat pembayarannya. Ah semoga mereka tidak sepertiku. Belum lagi abis lamunannya Sari sudah di sisinya, dia menghampiri Ola dengan was-was. “Kau di panggil lagi sama pak Lius?” tanyanya sembari memberikan saputangannya.
“Iya Sar, ah tapi tidak apa-apa kok ngomong-ngomong kau sudah dapat nomor ujian?
“ Nanti aku kembalikan saputanganmu ya Sar,aku ke kantin dulu Bantu bu Ros.” Sari tau Ola tidak di kasih nomor ujian dan dia tau sebabnya juga tapi bagaimana ia ingin menolongnya sedangkan dia dan keluarganya juga hidupnya pas-pasan. Sari anak yatim mamanya hanya pekerja salon dan 2 saudaranya juga masih sekolah,Ola tak mau keterusan di tolongnya.Sudah cukup sekali Ola di Bantu bayar SPP dan Osis. Ola tak mau berhutang dan juga tak mau melibatkan masalahnya pada orang walaupun pada Sari sahabatnya.
Kesedihannya itu di tumpahkan dengan membantu bu Ros mencuci piring-piring kotor Ola sengaja pergi agar Sari tidak melihatnya menangis. Ada sesuatu di dalam hatinya yang ingin di keluarkan tapi tak mampu, dengan segala daya upaya di tahan air matanya agar tidak tumpah bayangan mama tiba-tiba hadir tersenyum padanya.Karena terbuai kesedihannya Ola tidak sengaja memecahkan gelas, untunglah bu Ros orang yang baik Ola tidak di marahinya.
Ola melangkah lunglai pulang ke rumah, di dapati adik-adiknya menyodorkan surat dari wali kelas masing-masing. Ola membaca isinya dan otak pun tak lagi sanggup berpikir. Ke tujuh adik-adiknya semuanya mendapat surat panggilan orang tua. Pasti mengenai SPP! Aku harus bicara sama papa malam ini juga. Tekad Ola bulat. Papanya selalu susah di ajak bicara apa lagi menyinggung biaya sekolah mereka. Sementara papanya juga hanya memikirkan anak tirinya dan istrinya. Ola sangat membenci papanya karena sejak mama mereka tiada papanya selalu menomor satukan ibu tiri dan saudara tirinya. Bencinya sampai tak memperdulikan kehadiran mereka di rumah. Walau pun yang menjadi istri papanya adalah tante sendiri ,justru semakin menbuatnya membenci.Lebih baik jika dia tetap sebagai tante dan bukannya sebagai pengganti mama.Karena dia pun tak sanggup menggantikan mama merawat kesepuluh adik-adiknya. Namun apa lacur nasi sudah jadi bubur.Sebenarnya apa dosa kami apa salah kami? Kami tak minta di lahirkan ke dunia ini. Mengapa mau punya anak banyak kalau tidak mau mengurusnya? Dulu mama lah yg mengurus kami tapi sekarang? Ola tak kuasa menahan semua yang di alami.
Malam ini Ola berhadapan dengan papanya, di perlihatkan semua surat panggilan dari guru. Namun jawabnya hanya sepatah saja, nanti ! Ola berang dan beranikan dirinya menjawab “Kalau aku tidak sekolah juga tak apa, pa…! apa adik-adik semua juga harus seperti ku?” Suara Ola tanpa sadar.
“ Papa bilang nanti ya nanti! Belum ada uang lagian adik-adikmu kerjanya suka bolos lebih baik sekalian tidak usah sekolah lah” Suara pak Frans papanya membentak keras. “Tapi mereka bukan sengaja pa…mereka malu selalu di tagih dan tagih jangan salahkan mereka, salahkan diri papa yang mau beranak banyak tapi tak mampu menyekolahkan” Pakk!!!! Tamparan melayang ke pipi kanannya Ola tersentak kaget. Sakit kena tamparan masih bisa Ola tahan tapi kata-kata papa tidak usah sekolah sekalian itu yang menyakitkan. Apakah papa tidak tau kalau adik-adik bolos karena malu? Kejam nian…sungguh kejam kok papa tega pada anaknya? Getir Ola dalam hati.Ia berlari ke kamarnya.
Kesedihannya membuat Ola menangis sampai tak sadar mata memerah dan bengkak Ervan bertandang ke rumah pada saat yang tidak tepat. Kalau bilang di gigit serangga dia juga tak akan percaya ah apa harus ku katakan yang sesungguhnya? Tidak dia tak boleh tau semua yang terjadi,dia hanya seorang pacar bukan siapa-siapa semoga Mei juga tak banyak bicara tentang keluarga ini. Batin Ola menenangkan diri.
“Say, kenapa matamu merah dan bengkak begitu? Pandangnya penuh curiga.
“ Ah tidak apa kok, semalam di gigit serangga” jawab Ola.
“ Serangga ? kau jangan bohong, katakan padaku ada apa,apa yang terjadi?” di pegangnya tangan Ola dan di tatapnya matanya mencoba mencari kebenaran di sana.
“ Aku tidak apa-apa Van, sungguh jangan terlalu dipikirkan” jawab Ola sambil memalingkan pandangannya ke tempat lain. Namun Ervan tidak puas dengan jawaban Ola dia bertanya lagi Kali ini lebih serius.
“ Aku mencintaimu tulus apa adanya, dan aku tidak perduli walaupun menentang ibuku” Ervan mengira yang Ola tangisi adalah sikap ibunya.
Husshh!!! Jangan kau ucapkan lagi kata itu, kau tau kalau menyakiti hati seorang ibu adalah dosa yang tak terampuni? Ingatlah Van aku merindukan sosok ibu sosok mama bukan hanya aku tapi semua saudaraku amat terpukul di tinggal mama. Selama ibu mu hidup berbaktilah padanya jangan sekali-kali kau sakiti hatinya.” Kata Ola sambil memegang tangannya. Ola merasa ini yang terbaik buat mereka berdua. Walau pun hanya sebulan menjalin hubungan dengannya Ola merasa bahagia. Baginya mencintai tak harus memiliki. Dan apa bila itu yang terbaik demi kebaikannya Ola rela memutuskannya, Ola juga merasa bahwa mempertahankan hubungan ini hanya menambah luka. Bagaimana kalau sampai keluarga Ervan mengetahui tentang kehidupan keluarganya seperti ini. “Van…mulai sekarang jangan temui aku lagi,aku tak mau jadi penghalang antara kau dan ibumu” Ola tak berani memandangnya. perasaan bersalah. tapi Ola harus melakukannya. Kini lengkaplah Ola dengan dua predikat Broken Home dan Broken Heart. Tapi inilah hidup yang harus ia jalani tak ada tiang penyanggah yang dapat ia pegang. Melayang bersama derita demi derita yang harus di tempuh. Saat hati resah seperti sekarang yang dialaminya tak jua tergerak hati untuk ke gereja seperti yang di anjurkan Sari temannya. Beberapa kali dia mengajak Ola ke gereja tapi tak di dapatinya kedamaian ketenangan entahlah apa yang terjadi padanya. Apakah aku sudah mati rasa? Tiap malam memanjatkan doa,namun kehampaan tetap menyelimutiku.Oh Tuhan apa yang harus kulakukan.Derita hatinya.
Di pejamkan matanya saat memandang Ervan keluar dari pintu rumah, sungguh teganya dirimu mengapa kau melakukan itu? Mengapa tak kau pikirkan perasaannya? Siapa dirimu sebenarnya? Apa yang kau inginkan? Seribu tanya seribu suara mengadili dalam hatinya. Ola hanya diam membisu tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Di padamkannya lampu dan berjalan gontai menuju kamar, di lihat semua adik-adiknya yang tidur, bagaimana nasib mereka nantinya? Ah sudahlah kau terlalu lelah sekarang ,jangan terlalu kau risaukan, semua akan berjalan apa adanya tidurlah. Suara itu adalah suara yang terakhir Ola dengar dan akhirnya ia terlelap.
“Sudah, sudah kalian harus ke sekolah jangan sampai bolos lagi mengerti!” adiknya yang ke lima dan yang ke enam mengangguk mengerti. Hari itu mereka kembali sekolah lagi dan Ola bersama kakaknya yang tertua saling membantu dalam mengurus adik-adik. Ola tak tau sama siapa lagi harus meminta bantuan selain sama kakaknya sendiri. Dia pun juga harus mengurus anak dan suaminya. Sebatas kemampuannya saja dia membantu.
Pagi itu Ola berbekal nekat masuk sekolah walaupun Ola tau sangat tipis kemungkinan untuk di ikutkan ujian Ebtanas. Hanya harapan yang ia bawa melangkahkan kaki masuk ke ruang ujian. “Selamat pagi pak…maaf aku terlambat” sapanya pada guru pengawas itu. “Pagi ,kenapa terlambat? Mana kartu ujianmu?” balasnya dan “ Luciola ! mana kartu ujianmu?” di bacanya papan nama yang terpasang di baju seragam Ola dan mengulang pertanyaannya yang kedua kali. Ola tak bisa bicara mulutnya bungkam tak bersuara. “ Kau belum mengambil nomor ujianmu? Tanya nya lagi. Ola jadi tontonan teman-temannya. “Eee belum pak” jawabnya sambil menundukkan kepala.
“ Dia belum bayar SPP pak!” suara Vonny tiba-tiba.
“ Kalau begitu kamu ke ruang kepala sekolah saja”
“ Tapi pak, tttapiii…” belum selesai bicara pintu kelas sudah di tutup. Ola mencari-cari Sari diantara teman-temannya tapi tak ada. Ternyata Sari berada di ruang sebelah. Sedang mengerjakan soal ujian. Ola hanya bisa melihat semua dengan hati sedih,teramat sedih. Ola pergi dari sekolah. Dia berjalan ke arah pantai menyaksikan ombak merasakan angin bertiup sepoi-sepoi menyapu wajahnya, seakan menyapu segala kesedihannya. Di tatapnya langit nan biru sambil berkata dalam hati aku tidak takut dengan apa pun juga biarlah biarlah aku begini. Ola berjanji dalam hati takkan lagi mengeluh takkan lagi ia menangis dan takkan lagi menghadirkan penyesalan apa pun bentuknya. Hari itu menjadi semangat baru buatnya menjadi momentum yang berarti baginya. Ola harus bangun tiangnya sendiri ia tidak akan kalah dan tak mau kalah sama nasibnya. Tak ada yang harus di persalahkan lagi,memang ini sudah harus terjadi. Sejak umurnya 17th ia harus kehilangan mamanya sekarang ia tidak bisa selesaikan sekolahnya Ola harus mengalami semuanya namun ia tetap yakin kelak ini semua akan berakhir. Yah setidaknya ini membuatnya kuat dalam menjalani hari-hari berikutnya.
“Pergi nggak nanti ke acaranya mba Sri?” kata Mei di rumah tante.
“Nantilah liat “ jawab Ola singkat.
“ Ada apa kau dan kak Ervan?” tanya Mei kemudian.
“ Memangnya kenapa? Tak ada apa-apa kok” jawabnya lagi cuek.
“ Tapi kak Ervan sudah jarang main kesini lagi tidak biasanya begitu”
“ Jangan-jangan kalian…” Mei memandangnya curiga.
“ Apa yang kau pikirkan sih?” Ola mulai kesal.
“ Tidak pikir apa-apa kok, hanya heran aja dengan kalian.sudah dua minggu ini tidak liat kalian jalan bersama lagi.Kemarin kak Udin juga tanya kok kalian tidak muncul disini?”
“ Barangkali dia fokus dengan kuliahnya yang tinggal susun skripsi” jawab Ola asal.
“ Kok barangkali sih?” tanya Mei keheranan.
“ Sudah ah, tidak usah di perpanjang pokoknya dia lagi sibuk aja dengan kuliahnya” Percakapan mereka hanya sampai disitu, Ola berjanji akan datang di acara mba Sri tetangga tantenya yang akan mengadakan acara sunatan anaknya. kebetulan aku bisa ajak Sari sekalian. Pikir Ola.
Hari sabtu sore Ola di jemput Sari dan mereka langsung ke rumah mba Sri yang tidak jauh dari rumah tante Emi dan om Soni. Alangkah terkejutnya Ola ternyata bukan Cuma Udin dan Awal yang di liatnya tapi Ervan juga hadir di acara itu. Ah sudah kepalang basah tidak usah menghindar.Dia sudah melihatku,katanya berbisik. Ola dan Sari duduk di samping Nani, Mei duduk berdampingan dengan Ervan. Setelah acara pengajian selesai mereka menemui mba Sri dan tante Emi yang sedang membantu di dapur. Basa-basi sebentar Ola mencari tempat duduk di halaman belakang.
“ Apa kabar,kau baik-baik saja say?” kaget mendengar suara yang tidak asing baginya Ola menatapnya namun buru-buru di palingkannya pandangan ke tempat lain.
“ Iya aku baik saja kok,gimana kuliahmu?” balik Ola yang bertanya dengan salah tingkah.
“ Baik, ternyata kau masih memikirkan aku” jawabnya menggoda lagi dengan senyuman.
“ Aku hanya tanya tentang kuliahmu,jangan di tafsirkan lain.” Kilahnya berdalih.
“ Oke,oke jangan marah. Sebentar kita jalan yuk.” Tetap menggoda dengan kedipan mata
“ Tidak bisa Van, aku datang dengan Sari jadi pulangnya pun dengan dia lagi.”
“ Aku tau, kan kita jalannya bukan berdua aja tapi rame-rame kok.”
“O bolehlah jalan kemana kita?” ups…kena deh,kirain ajak berdua kikuk jadinya.
“ Kau juga tidak katakan pada mereka tentang hubungan kita kan?”
“ Kenapa ? alasannya apa?” dia menodongkan pertanyaan yang tak diduga.
“ Maksudmu apa? Aku tidak mengerti Van?” pura-pura tidak tau lebih baik akal Ola.
“ Kau mengerti apa yang ku maksud,tidak usah pura-puralah say” Ervan memegang tangannya, Ola merasa salah tingkah dan mungkin Ervan juga merasakan.
“ Tidak ! aku tidak mengerti !” Ola menarik tangannya dari genggaman Ervan.
“ Baik, aku mengakui masih menyayangimu dan tidak bisa melupakanmu semudah dan secepat itu say, akuilah kalau kau pun juga begitu. Kita kembali lagi seperti dulu.” Sesaat Ola terpana pada kejujuran hati Ervan,tapi bayangan orangtuanya yang tidak suka dengan Ola kembali menari-nari di pikirannya. Apa yang harus ku lakukan? Apakah harus ku katakan bahwa aku tidak tertarik lagi dengannya? Bahwa aku tidak mencintainya? Ola bingung entah apa yang harus ia katakan.
Sementara hatinya ikut tersiksa sejak dua minggu tidak melihat dan mendengar suaranya yang selalu menggoda dan menghiburnya. Dia selalu membuat Ola senang dan tertawa. Melupakan segala kesedihannya yang tak pernah Ola ceritakan padanya. Keluarganya adalah segalanya baginya Ola tidak mau merusak hubungan itu. Dan juga keluarganya sangat kental dalam hal agama yang mereka anut. Sementara Ola bertolak belakang dengan semua itu. Dia ternyata juga diam-diam sudah mencuri hati Ola dan Ola terperangkap dalam jurang yang di ciptakannya sendiri. Jurang pesona yang dalam dan terjal hingga Ola tak bisa berbuat apa-apa. Otaknya tak mampu tuk berpikir, diam seribu kata.
“ Ternyata kalian ngumpet disini rupanya,tuh Sari mencarimu” ufh, untung Nani tiba tepat di saat Ola kebingungan menjawab pertanyaan Ervan. Mereka beranjak dari halaman rumah mba Sri setelah sebelumnya berpamitan pada tuan rumah.
“ Kita ke pantai yuk, lihat matahari senja”
“ Boleh tuh, menikmati pemandangan lebih fresh apalagi buat yang pacaran wow…” Udin dan Nani serentak menentukan tujuan sambil lirik menggoda Ola dan Ervan. Jadilah tujuan mereka ke pantai Losari. Sari, Nani,Mei, Udin,dan Awal bersama-sama mereka dengan kendaraan Mitsubishi milik kakak Ervan melaju ke pantai Losari. Di pantai tersebut Ola dan Ervan berjanji untuk menghadapi segala rintangan yang menghalangi cinta mereka.
Beberapa bulan kemudian hubungannya dengan Ervan tercium oleh ibu Ervan, Ola di damprat habis-habisan. Ola diam saja saat di maki yang macam-macam. “Perempuan kayak kau tidak cocok dengan anakku, perempuan jalanan tidak tau malu cih !” Airmatanya di tahan sekuat-kuatnya ia sudah berjanji untuk tidak cengeng lagi namun Ola tak kuasa mendengarnya akhirnya tumpah juga tetesan bening dari matanya. Ervan membelanya di hadapan ibunya. “Saya tidak perduli ibu setuju atau tidak saya tetap mencintainya bahkan kami berniat untuk menikah. Bagai di sambar petir Ola kaget mendengar niat Ervan jantungnya serasa berhenti seketika. Dia mau mengawiniku? Apakah tidak salah pendengaranku? Tidak ! Tidak! Aku harus melakukan sesuatu. Ola tak habis pikir.
“ Apa !!! anak durhaka, anak kurang ajar. Siapa yang mengajarimu bicara begitu !”
“ Berani-beraninya kau membela perempuan itu di hadapan ibumu ini,ibu yang melahirkanmu. Sekarang pilih dia atau ibu Van !” suara ibunya semakin keras.Ola menyesali semua, ini salahku! Ini salahku! Seandainya aku tidak menerima cintanya tentu takkan begini jadinya. Ya Tuhan mengapa jadi begini? Batinnya berkecamuk. Tapi tidak cukup sampai situ. “ Hey perempuan sial gara-gara kau anakku jadi begini apa yang sudah kau lakukan padanya hah! Dasar jalang!” Ervan tiba-tiba berdiri dan memelukOla. Ola tak kuasa melakukan apapun, ibu Ervan semakin kalap melihatnya dalam pelukan Ervan. Seluruh tubuh bergetar karena takut ,seakan mengerti Ervan mempererat pelukannya.
“ Bu cukup…cukup! Aku yang salah bukan dia, jangan ibu menyiksanya dengan kata-kata seperti itu, dia tidak seperti dugaan ibu.” Ervan mati-matian membela Ola, seluruh tulang-tulangnya lemas seakan tak mampu menopang tubuhnya. “Baiklah kalau begitu kau berarti lebih memilihnya dari pada ibumu sendiri, sekarang juga kau bukan anakku lagi pergi dari sini jangan harap restu dariku!” Ola tersentak kaget mendengar keputusan ibu Ervan. “Jangan..!jangan ibu lakukan itu Ervan anak ibu,akulah penyebab semua ini jangan usir dia aku mohon. Tapi sejujurnya bu aku betul-betul mencintainya bukan karena niat apapun maafkanlah kami. Aku berjanji tidak akan menemui Ervan lagi jika itu mau ibu.” Ola mendekatinya. Bersujud dan mencium kaki ibu Ervan, Ola tetap berusaha memohon maaf demi Ervan. Demi pria yang dicintai, demi rasa sayang ibu pada anaknya. Ola terlalu bermimpi bahwa cinta mereka mampu meluluhkan hati ibu nya yang keras. Tak lama berselang ayah Ervan pun tiba ia menjadi penengah malam itu, malam yang tak dapat Ola lupa seumur hidupnya. Malam yang menjadi bukti kekuatan cinta mereka.
“ Ibu sudah keterlaluan ! dia sudah meminta maaf pun tak ibu gubris.” Ervan membantu Ola berdiri dari kaki ibunya. “Maaf ? bukankah sudah ibu katakan tidak akan merestui kalian. Sejak kapan anak mengatur orangtua !” Intonasi suaranya semakin keras.
“ Ada apa ini rebut-ribut ?” Ayah Ervan datang menghampiri.
“ Tidak usah ikut campur yah” sengit ibu Ervan pada suaminya.
“ Loh, memangnya kalian kenapa kok ibu sampai marah begini?”
“ Itu anakmu sudah mulai kurang ajar membantah orangtua membela perempuan jalang.”
“ Astaghfirullah Istighfar bu, siapa yang ibu bilang itu?” kata ayah Ervan.
“ Pokoknya aku tak akan merestui kalian titik ingat itu” ibu Ervan berlalu ke kamarnya.
“ Van, ada apa nak kenapa ibumu sampai marah begitu?”
“ Inikah perempuan yang kau sukai itu?” ayahnya memandangi Ola dari balik kacamatanya.
“ Maaf ini salah saya pak bukan salah Ervan.” Kata Ola membela Ervan.
“ Yah ini Luciola dia wanita yang ku cintai selama ini.” Ervan mengenalkan Ola ke ayahnya.
“ Kamu betul-betul mencintai anakku?” suara ayahnya tampak tenang setenang orangnya. Ola hanya mengangguk tak berani memandangi wajahnya yang penuh wibawa.
“ Ervan, apa yang membuat ibumu marah besar? Selama ini memang ibumu sudah curiga tentang hubungan kalian tapi kenapa jadi begini ?ayah kaget dan heran sikap ibumu tadi”
“ Ervan memang salah yah, tapi Ervan bukan sengaja membuat ibu marah. Tadi Ervan katakan niat Ervan mengawini Ola, tiba-tiba ibu marah besar dan mengatakan Ola yang bukan-bukan. Niat Ervan sudah bulat yah kami saling mencintai.” Ervan menjelaskan pada ayahnya. “ Tapi antara kalian jauh berbeda dan ayah pernah dengar dari ibumu bahwa dia beragama Kristen,betulkah itu Van?” Ayah Ervan bertanya sambil memandangi Ola yang berdiri di samping Ervan. Ervan mengiyakan. Ola yang tidak menduga sama sekali niat Ervan sebelumnya hanya bisa diam karena semua itu di luar dugaannya. Tanpa memberitahukan niatnya terlebih dulu Ervan memintanya untuk bertamu ke rumahnya sekedar bertemu dengan orangtua dan saudara-saudaranya.
“ Sudah malam, antarkan dia pulang nanti orangtuanya mencari.”
“ Besok kita selesaikan tapi kalau boleh ayah minta satu hal khusus buat kalian jangan asal mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik dulu. Dan kau, ayahnya menunjuk pada Ola , Kalau kau benar-benar mencintai Ervan apa kau rela dan ikhlas melepaskan agamamu yang sekarang? Ola menatap wajah tua yang sangat mirip dengan Ervan itu, tersimpan kebijakan yang terpantul dari raut wajahnya.Akhirnya… “ Aku mencintainya sungguh-sungguh dan akan ku lakukan apa pun untuknya.” Jawab Ola mantap entah darimana datangnya keberanian itu.
“ Alhamdulillah ! tapi apa orangtuamu tidak keberatan?” Ola diam tak menjawab.
“ Sudahlah bicarakan dulu pada orangtuamu, karena Ervan tidak mungkin ikut agamamu dan aku sebagai ayahnya jelas-jelas menentang hal itu,kalau hal lain masih bisa kita bicarakan baik-baik tapi kalau yang satu itu tidak bisa di ganggu gugat.” Ola mengangguk tanda mengerti dan ayahnya masuk ke kamar menyusul ibunya. Tak lama Ola permisi pamit pada kakak-kakak Ervan , Ervan adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya sudah bekerja dan Ervan tinggal menyusun skripsinya dan selangkah lagi ia bergelar sarjana ekonomi. Malam itu Ola diantar pulang selama perjalanan Ola banyak diam. Otaknya mencerna semua kejadian yang menimpa mereka tadi.
“ Say, kau marah ya?” Suara Ervan memecahkan kesunyian diantara mereka berdua.
“ Maaf aku tidak bilang dulu, aku hanya bermaksud memberikanmu kejutan.”
“ Tapi aku serius La, betul-betul serius bahkan dua rius.” Candanya menghibur.
“ Tapi kau tadi sudah membuat ibumu marah besar dengan pengakuanmu.aku tadi ketakutan setengah mati dan sekarang kau masih sempat bercanda?” omel Ola.
“ Maaf…maaf say,aku tau aku salah tapi akupun tak menduga ibu sampai semarah itu.”
“ Tapi omong-omong yang kau katakan pada ayah tadi itu serius?”
“ Ya, aku serius bahkan dua tiga rius nya dari kau.” Balik Ola bercanda juga.
“ Kenapa say? Apa itu bukti cintamu padaku?”
“ Yah begitulah, salah sendiri kenapa mencintaiku juga.” Senyum Ola mesra.
“ Tapi ada syaratnya Van, jangan sakiti ibumu ingat! Kalau ibumu tetap tak merestui kita aku tak mau memaksakan meskipun aku tulus mencintaimu juga. Hanya itu yang tak dapat ku buktikan.sebab ia adalah ibumu yang melahirkanmu dan membesarkanmu Van, cinta kita tak sekuat cinta ibu pada anaknya.aku tak bisa dan tak mampu melawan cinta ibumu” Ola memandangnya dengan tatapan penuh cinta.
“ Aku juga sayang pada ibuku,siapa yang tak sayang pada ibunya? Tapi ibu seharusnya mengerti hubungan kita say, aku tak tega mendengar ibu memaki yang bukan-bukan padamu. Kalau memang ibu menyayangiku dia tidak akan berbuat begini pada wanitaku yang sebentar lagi menjadi istriku.” Dia menggodaku lagi dan selalu begitu. Ola tersipu.
“ Mulai lagi rayuanmu, Van justru karena rasa sayanglah makanya ibumu berbuat begitu. Aku bisa mengerti perasaan ibumu, terlalu sayangnya pada anak bontotnya yang ganteng. Dan aku tidak patut untuk marah atau membenci ibumu aku salah sudah berani mencintai anaknya sampai anaknya jadi begini.” Katanya menyadari Ervan. Dan Ervan memeluk Ola erat sangat erat hingga Ola bisa merasakan aliran cinta dan kasihnya mengalir dalam dekapannya. “Say, bagaimana dengan papamu? Apa yang akan kau katakan ? kau hanya mengkhawatirkan ibu tapi tidak memikirkan sedikitpun tentang papamu? Apa lagi kalau dia tau kau melepaskan agamamu demi aku. Aku tau pasti papamu marah besar karena papamu tidak menyukaiku juga.” Kata-kata Ervan membuatnya sadar.
“ Aku berusaha meyakinkannya juga, aku tau ini tidak mudah tapi aku akan minta bantuan tante Emi untuk meyakinkan papa Van.” Ervan mengangguk.” Aku juga harus bicara dengan papamu apapun yang akan dikatakan aku terima, seperti kau menghadapi orangtuaku say.” Kini Ola yang mengangguk. “ Berdoalah semoga kita bisa melalui semua rintangan ini dengan tenang, demi cinta kita say.” Ola memeluknya mereka berjalan malam itu dengan di terangi cahaya bulan purnama. Cahaya pengharapan yang membuat hati mereka bersatu. “ Sebelum masuk ke dalam rumah ucapkanlah kalimat ini “Bismillahhirahmanirrahim… “. Basmalah adalah menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha penyayang. Dengan menyebut kalimat Basmalah niscaya niat kita yang mengandung kebajikan akan mendapat berkah dan RahmatNya. Ervan menjelaskan dan Ola menganggukan kepalanya tanda paham dan Ola yakin ada kekuatan tersendiri yang dirasakannya dalam hati.
Seminggu kemudian Ervan dan Ola menghadapi pak Frans papa Ola. Di malam itu pak Frans bukan saja marah malah mengusir Ola dari rumah. Tidak sedikitpun pak Frans mau memperdulikan anaknya. Ervan apalagi, baru hendak membuka mulutnya pak Frans sudah membabi buta mengusir mereka berdua. “Papa kejam, Ervan datang baik-baik untuk meminta restu papa kenapa papa malah mengusir kami? Pa tekadku sudah bulat!” Ola berkata tegas di hadapan papanya, tapi pak Frans tidak bergeming sedikitpun.Hanya satu kalimat yang keluar sebelum Ola melangkahkan kakinya keluar dari pintu.
“ Begitu kau injakkan kakimu keluar aku tidak punya anak sepertimu !!!” Suara papanya menggema dalam ruangan. Adik-adiknya berlari memeluknya.Keharuan terjadi pada mereka. “ Kak Ola jangan pergi, jangan tinggalkan kami” seru saudaranya semua. Ola tak kuasa menahan air matanya, membayangkan adik-adiknya dalam asuhan ibu tirinya. Pak Frans bukan saja membawa istri dan anak tirinya tetapi juga membawa pembantu yang hanya melayani anak tirinya. Sedih hati Ola meninggalkan mereka tetapi ia juga sudah membuat keputusan untuk masa depannya. Tak mungkin ada pria seperti Ervan yang mau menikahinya.Memperistri wanita yang dari keluarga broken home. Hati terkoyak perih memikirkan bagaimana hidup saudaranya nanti? Dia tak mungkin harus mengasuh dan membesarkan semua adik-adiknya, ini bukanlah tanggung jawabnya. Papanya lah yang seharusnya lebih memperhatikan anak-anaknya. Langkah kaki Ola terasa berat.
Masih terdengar jelas suara saudaranya yang memanggil-manggil namanya. Pak Frans membanting pintu dengan keras. Jelas di telinganya suara pak Frans membentak adik-adiknya, “ Diam semua!!! Dia bukan kakak kalian lagi, begitu juga Mei dan Selly mereka bertiga sudah bukan saudara kalian. Selly menikah juga tanpa restu papanya sedangkan Mei pergi dari rumah karena tak mau hidup serumah dengan tante yang tlah menjadi ibu tiri.
Ervan memeluk Ola sepanjang perjalanan di atas becak. Membujuknya dengan kasih sayang nan lembut. “ Sekarang kau sudah menjadi tanggung jawabku dan aku tak akan pernah meninggalkanmu sedetikpun. Secepatnya kita menikah, bersabarlah. Untuk sementara ini kau tinggallah di rumah tante Emi bersama Mei.” Ola mengganguk karena hanya itu yang dapat ia lakukan.
Setelah tiba di rumah tante Emi sungguh kaget ia mendengar cerita Ola dan Ervan. Bukan tak mau menolong membicarakan ke pak Frans tentang niat mereka. Dulu saat kakak Ola juga hendak di lamar tante Emi lah yang menemani tapi kekerasan hati pak Frans tak memberikan restu perkawinan Selly karena Selly juga memeluk agama Islam saat akan menikah. Alhasil tante Emi tidak berani ikut campur lagi. Ola akhirnya tinggal di rumah tante Emi. Selama di rumah itu Ola mulai membaca-baca buku tentang agama Islam. Tak terasa sebulan berlalu, kini Ervan dan Ola akhirnya tercapai melangsungkan pernikahan mereka. Seminggu sebelum pernikahan berlangsung Ola telah memantapkan hatinya dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan keluarga Ervan dan di saksikan oleh tante Emi juga Selly kakak tertuanya dan Mei adiknya. Ibu Ervan tak menduga kalau Ola betul-betul melakukan itu. Hatinya antara ya dan tidak. Ia merasa Ola tidak tulus menjadi seorang muallaf namun Ola berjanji akan menjalankan apa yang sudah seharusnya ia kerjakan sebagai seorang muslim dan terlebih Ola menyadari bahwa terutama ia berjanji bukan hanya pada ibu atau keluarga Ervan tapi janjinya pada Allah Yang Maha Kuasa Yang maha Pengasih dan Penyayang untuk menjalankan segala perintah dan laranganNya. Ibu Ervan memberikan nama Islam pada Ola dan ia berpesan selama Ola menjadi istri Ervan tunjukkan bahwa Ola betul-betul ikhlas memeluk agama Islam. Ola tersenyum penuh bahagia karena sekeras-kerasnya hati ibu Ervan yang kini menjadi ibunya juga ia yakin di balik itu tersimpan kelembutan hati seorang ibu.Maka sekarang sudah tiada lagi nama Luciola yang ada adalah Latifah Fauziah. Sekarang Ola sah menjadi pengikut nabi Muhammad. Ia seorang Muallaf yang selama hidupnya akan tetap mencintai dan menyanjung agamanya, mencintai hidupnya sama seperti ia mencintai Ervan yang kini telah menjadi pendamping hidupnya.
“Tak ada satu pun di alam dunia ini kecuali milik Allah, tak ada satu kejadian pun kecuali terjadi dengan ijinNya, dan tidak ada kejadian sia-sia kecuali ada hikmahnya.”
BY: Fira.R Medio Juli 2007
Aq g ngerti sama skali…? tapi bkan berarti aq anak2 yc…