PAWAKA DI HATIKU
Sepanjang jalan tampak buram dalam pandanganku,peluh membasahi sekujur tubuh.Aku berjalan tanpa lelah dan tak perduli pada apapun dan siapapun disekitarku saat ini. langit senja berwarna merah menerawang bumi yang kupijak ia seakan enggan meninggalkan diriku yang tertatih-tatih dalam langkah dan pikiran yang entah melayang kemana arahnya.Kalut, sungguh kekalutan yang tak dapat aku lihat ujungnya apalagi untuk mempersatukan kedua ujung yang kusut itu.
Hatiku memberonta jiwaku tak terkendali. Bau asap kendaraan dan deruan berisiknya tak membuatku bergeming. Aku hanya ingin menjauh, pergi sejauh-jauhnya kemana kaki ini melangkahkan. Dalam hatiku berbisik “kemanakah akhirnya perjalanan ini? kemanakah perginya keadilan itu?” Suara bisikan itu terus bergema tak berhenti ia semakin membuatku terus mencarinya.
Hingga kelelahan diri menatap gubuk dan warung yang terhimpit gedung-gedung pencakar langit disekitarnya. Aku tak sadar entah berapa mil jaraknya kaki ini berjalan rasa haus hinggap ku pandangi diriku, aku hanya membawa diriku tanpa tas dompet sepatu yang biasa menemaniku. Aku mengingat-ingat lagi pertengkaran yang terjadi tadi. Uh..persetan!!!
Langkahku terhenti di sebuah sudut warung kopi,aku berjalan ke arah pak tua yang sedang menyulutkan sebatang rokoknya.”Pak, boleh minta air minumnya?” sapaku tak memperdulikan tatapan orang-orang yang sedang berehat dan ngopi ditempat itu.
Pak tua itu tak bersuara ia hanya menyerahkan segelas air putih untukku. Ku teguk habis air dan merasakannya mengalir di leherku nikmat dan sejuk . “Pak, boleh aku duduk sebentar disini?” mohonku penuh harap. Pak tua itu hanya mengangguk saja aku melihat garis kerut dikeningnya yang hitam tampak seperti garis bijak orang yang selalu sujud diatas sajadah. Dan dugaanku ternyata tak meleset, tak berselang lama seruan azan berkumandang untuk pertama kalinya aku mendengar ia bersuara..”nak titip warung sebentar bapak mau sholat maghrib.” Aku yang kali ini hanya mengangguk pada beliau dan memandangnya hingga ia masuk di gubuk yang tak jauh dari warung ini.Dalam hati berkata pak tua itu belum mengenalku kok semudah itu ia percayakan menjaga warungnya,apa tak ada keluarga lain anak atau istri misalnya? Sementara tiga orang yang ngopi ditempat pak tua ini sibuk dengan perbincangan mereka tentang harga kenaikan tarif tol. Sudah pasti mereka adalah sopir angkutan umum karena terminal senen hanya berjarak beberapa meter saja dari sini.
Tak sampai 10 menit pak tua itu sudah kembali dan kini ia mulai tersenyum padaku.
“Sekarang giliranmu nak,bersihkan api dalam hatimu yang sedang menyulut itu.” Aku terperanjat kaget seketika. Kok dia tau apa yang sedang aku rasakan sekarang? Bisik hatiku dalam kebingungan menatap pak tua itu.
“Hayo lekas, itu ada mukenah istri saya,ada gentong air disamping warung ini wudhulah segera.” Sambil menunjuk mukenah yang ada di bagian dalam warungnya. Kuturuti perintah pak tua itu mengambil mukenah yang tersandar di atas balai-balai lalu berjalan kesamping warung untuk mengambil wudhu kemudian kaki ini memasuki gubuk tua yang berada tak jauh dari warung tersebut. Walau gubuk ini tua tapi terlihat bersih dan terawat.Aku mulai menjalankan sholat dan kurasakan aliran ketenangan yang merambah hingga kehatiku sejuk teduh sekali.
Setelah selesai aku kembali ke warung lagi. Kali ini sepi hanya aku dan pak tua itu. Ia menghidangkan segelas teh panas untukku.”Sini nak, bagaimana perasaanmu sekarang?” Ia mengajakku duduk bersama di balai-balai.”Lumayan pak.” Jawabku singkat.
Dia tersenyum penuh bijak matanya memancarkan kearifan yang tak kudapati selama ini.
“Jangan biarkan api menguasai dirimu,apapun yang terjadi selalu ingat semua adalah ujian yang Allah berikan bukan berarti Ia (Allah) tak menyayangi umatNya. Justru sebaliknya kau patut bersyukur masih diberi ujian dalam hidup ini, itu kuncinya nak.”
Aku hanya bisa diam dan mendengar dengan seksama kata nasehat yang pak tua berikan. “Sekarang saatnya kau pulang pada keluargamu, mereka pasti sudah cemas menunggu dirumah nak. Minumlah dulu teh ini agar hangat dalam tubuhmu.” Pak tua itu mengecilkan api kompornya, air yang direbusnya kini mendidih dan disalin ke termos. “Pak,boleh aku tanya sesuatu? Apakah bapak tinggal sendiri disini?” tanyaku spontan.
Ia tersenyum lagi. “ Ada seorang anak dan istri saya…(diam sejenak) mereka selalu ada disini( ia memegang dadanya yang kurus) dan akan tetap selamanya begitu.” Aku tak mengerti maksudnya dan bertanya lagi.” Apa mereka sudah tiada pak?” Beliau hanya mengangguk aku terenyuh seketika, pak tua ini sungguh tegar. “Maafkan saya lancang pak.” Beliau kembali tersenyum dan sungguh saya senang melihat senyumnya yang menenangkan itu. “Nak,dalam hidup ini ada ya dan tidak,ada hitam dan putih,ada api dan air,ada hidup dan mati semua sudah diatur olehNya, kita manusia harus beriman agar tidak salah dalam langkah dan berbuat.
Sekalipun ujian yang tak kita kehendaki datang kita harus belajar menerima karena dengan begitu lambat laun kau masuk dalam catatanNya yang khusus sebagai insan yang dicintaiNya. Ingatlah ini selalu, semua ada hikmah dari segala peristiwa yang kita hadapi. Pupuk dalam hatimu dengan menyiramnya tanpa kenal lelah.” Aku merasa tenang dan teramat tenang mendengarnya. Sungguh aku tak mengira jalanku sampai kesini.Alhamdulillah aku bertemu pak tua ini.”Silahkan diminum teh nya selagi hangat,maaf disini tak ada makanan yang saya sajikan.” Katanya kemudian. “Terimakasih pak,ini juga sudah lebih dari cukup buatku teramat cukup dan mengenyangkan.” Kini ia menatapku pandangannya dalam.”Pulanglah…niscaya semua akan ada jalan keluarnya asal kau tetap sabar.” Sekali lagi aku dibuat terharu dan tanpa sadar air bening yang hangat membasahi pipiku.”Tttaapi pak…!” Aku tiba-tiba ingin menceritakan semua kekecewaan yang kualami namun pak tua itu berkata” Cobalah malam ini tahajjud nak,Insya Allah semuanya dimudahkan dan jangan pernah bosan berseru dan meminta padaNya serahkan segala kekuatiranmu jangan takut dan jangan gentar dengan masalah dan ujian yang menghadang hadapi dengan benar dan tawakkal. Jangan kobarkan api dendam dihatimu lebih baik maafkan saja, kita tidak akan hina dengan dihina sebab semua perbuatan akan kembali kepada pembuatnya,percayalah.”
Pak tua ini seakan mengetahui apa yang aku alami, saat ia berbicara aku seakan dibawa kealam yang indah yang hanya ada aku dan pak tua ini. Tak lama kemudian dia masuk kedalam warungnya menyalakan lampu teplok didinding. Aku tiba-tiba punya kekuatan dan betul kata pak tua aku harus bisa menghadapi semua bukan dengan cara seperti ini.
Pak tua keluar dan berkata “Sudah siap nak? Pulanglah tempatmu bukan disini.”
“Pak,aku tak punya uang untuk membayar teh hangat yang kuminum tadi.” Kataku.
“Jangan kau pikirkan itu,hanya segelas teh nak yang penting kau pulang dalam keadaan selamat tiba dirumah itu sudah cukup buat saya.” Tatapannya hangat membingkai sudut senyumnya yang tulus. “Pak, terimakasih banyak sudah membantu saya semoga apa yang bapak berikan ini dibalas Allah berlipat ganda.
” Aku menjabat tangannya yang kurus dan keriput kucium tangan orang tua ini dengan penuh hormat dan tulus. Ia menarik cepat tangannya seakan mengatakan jangan perlakukan seperti ini,saya tulus ikhlas menolongmu…mungkin kira-kira seperti itulah kesannya. Akupun pulang kembali kerumah,kembali ke kehidupan yang seharusnya aku jalani bersama orang-orang yang kusayangi menghadapi segala masalah yang menghadang dengan sabar dan tawakkal. Seperti pesan pak tua tadi. Aku tak akan mengulangi perbuatanku lari dari setiap masalah yang terjadi tak berani menghadapi dan menyimpan bara api didalam hatiku, sungguh kehidupan yang teramat menyiksaku. Bukannya ketenangan yang kudapati melainkan menambah deretan penderitaan yang tiada habisnya.
Aku selalu berpikir pada satu hal bahwa mengakui sesuatu demi untuk kebaikan adalah perbuatan yang penuh pengorbanan sementara pengorbanan itu selalu membuat jalan hidupku tak tentu arahnya. Aku terhimpit pada ya dan tidak…pada hitam dan putih…pada api dan air…juga pada hidup dan mati.Astagfirullah kini aku sadar bahwa aku tak ikhlas diberi ujian olehNya. Masih ku biarkan kobaran gelora pawaka di dalam sini. Aku lalai menyiramnya dengan tekun agar pawaka itu tak lagi bersemayam. Aku lupa bukan pengorbanan yang kuinginkan tetapi kemuliaan dimata Allah itu yang seharusnya aku tanamkan, karena untuk mendapatkan itu memang harus kujalani jalan pengorbanan yang berkerikil bercadas dan curam namun didepan sana ada suatu tempat untukku tuju dan disanalah segala jawaban dan perjalananku berakhir kelak Insya Allah,amin ya Rabb. Rasa terimakasihku tak terhingga pada pak tua yang telah memberikan pencerahan pada penglihatanku selama ini beliau seorang bapak yang mulia bagiku. Setelah beberapa minggu kusempatkan diri untuk mengunjunginya namun yang kudapati adalah gubuk dan warung yang telah kosong.
Menurut beberapa sumber yang berada didekat terminal itu gubuk itu sudah lama kosong sejak kecelakaan 3bulan lalu menimpa anak dan istri pak Soleh, beliau pulang kekampung seminggu kemudian dan tak satupun yang mengetahui dimana keberadaan belaiu saat ini. Kampung mana juga tak jelas.Menurut mereka memang pak Soleh orang yang baik hati dan agak pendiam sejak ditinggal anak istrinya beliau mulai sakit dan tak kuat lagi meneruskan membuka warung bahkan saat pergi tak ada yang mengetahuinya.
Aku melangkah masuk warung dan duduk diatas balai-balai tua yang kini berdebu dan tak berpenghuni.Aku tertegun,berpikir bukankah baru dua minggu dari sekarang aku pernah berada disini bersama seorang pak tua yang baik hati? Mengapa orang-orang itu mengatakan sudah lama sekali kosong tempat ini? Hatiku berbisik ada kerinduan dan ingin mengucapkan terimakasih sekali lagi pada kebaikan dan ketulusan beliau.Pak Soleh dimanapun engkau berada doaku selalu menyertaimu.Siapapun beliau yang jelas sudah memberikan satu hal yang berharga dalam hidupku. Kucubit lenganku sakit…ini bukan mimpi ahhh, mimpi atau bukan kupetik hikmahnya dari peristiwa ini.
BY: FIRA.R 30 September 2007.
Wah selamat ya dah punya rumah baru. trus yang lama gimana? Tapi, koq isinay hampir sama ya. He